Keluarga Berperan Tumbuhkan Budaya Membaca
SENIN, 14 DESEMBER 2009 | 20:05 WIB
KOMPAS.com - Membudayakan kecintaan membaca bisa mulai ditumbuhkan di dalam keluarga. Peran orangtua, terutama ibu, cukup penting untuk menarik minat anggota keluarga membaca buku sejak dini.
"Ibu punya kekuatan luar biasa untuk membentuk anak. Kalau ibu menggunakan peranannya dalam konteks memberikan contoh yang baik bagi anaknya, dalam hal ini membaca. Insya Allah anak akan menjadi pembaca. Apa yang dilakuan ibu saya sebagai orang kampung lulusan madrasah adalah dia tidak memaksa saya untuk membaca. Tetapi di depan saya, dia baca terus. Jadi dia memberikan contoh. Contoh itu yang terlihat dan kemudian terekam di saya seumur hidup saya," kata Tantowi.
Sementara itu, guna terus menumbuhkan budaya masyarakat di kalangan masyarakat, pemerintah mendukung pembangunan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Kepala Sub Direktorat Kemitraan Direktorat Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas, Pahala Simanjuntak menyampaikan pemerintah memberikan dukungan bagi masyarakat yang mengembangkan TBM.
Pahala menyebutkan, ada dua jenis bantuan yang diberikan. Pertama adalah TBM Keaksaraan. Bantuan sebanyak Rp 15 juta diberikan untuk membeli buku-buku yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Bantuan yang kedua adalah TBM Penguatan Minat Baca sebanyak Rp 25 juta. TBM ini untuk mengembangkan minat baca dalam rangka pembudayaan kegemaran membaca.
Kurikulum untuk anak usia dini, perlukah?
Kurikulum untuk anak usia dini, perlukah?
Anak-anak usia dini hidup dalam dunia bermain. Meskipun demikian,tak ada salahnya jika orang tua memiliki rancangan bahan atau materi untuk mengisi hari-hari mereka. Hal yang pasti, kurikulum untuk anak usia dini haruslah sangat fleksibel, sesuai dengan kemampuan dan minat anak.
Kelas-kelas pra-sekolah seperti Play Group (PG) atau Taman Kanak-Kanak (TK) pasti memiliki kurikulum dan target-target, namun karena tuntutan aturan formal, mau tidak mau guru akan menilai perkembangan anak secara kasar, berdasarkan akumulasi kemampuan yang dikuasai anak selama kurun waktu tertentu. Jelas penilaian itu tidak valid, karena ketika guru memasuki kurikulum mewarnai misalnya, beberapa anak mungkin belum siap dengan fase itu. Mereka mungkin menolak untuk melakukannya atau hanya membubuhkan satu coretan pendek di kertasnya, karena dia memang belum berminat.
Di sinilah peran orang tua sangat dibutuhkan. Tak peduli apakah anak-anak masuk TK ataupun tidak, tugas orang tua-lah untuk memahami anak-anaknya dengan baik, sehingga tahu kapan harus memperkenalkan sebuah keterampilan, kapan harus menundanya, kapan harus memacunya lebih kencang, dan bagaimana membuat anak menjadi tertarik untuk mempelajari sesuatu tanpa harus dipaksa oleh waktu dan penilaian pihak lain.
Pendidikan sungguh jauh melampaui batas-batas nilai kuantitatif seperti diterapkan di sekolah. Pendidikan adalah rangkaian proses belajar untuk menjadi manusia yang terus tumbuh, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.
Menyusun kurikulum untuk anak usia dini berarti siap mengikuti irama mereka dan siap untuk melangkah lebih jauh saat mereka berminat untuk tahu lebih banyak. Ketika anak-anak diperkenalkan tentang kuda misalnya, bisa jadi rasa ingin tahu mereka berkembang, ingin tahu tentang makanannya, di mana tidurnya, dan mungkin ingin mencoba menaikinya dan mengoleksi gambar-gambarnya.
Adapun secara terstruktur, ada banyak model kurikulum anak usia dini yang telah dikembangkan di dunia. Kurikulum Montessori adalah salah satu di antaranya. Model ini cocok bagi mereka yang senang dengan keteraturan dan mengharapkan anak-anak juga bersikap teratur dan runut. Sebuah buku berjudul Montessori untuk Prasekolah yang disusun oleh seorang praktisi kurikulum Montessori bernama Elizabeth G. Hainstock dan diterbitkan edisi terjemahannya oleh penerbit Delapratasa Publishing, bisa menjadi pilihan untuk mengetahui lebih detail kegiatan-kegiatan ala Montessori.
Melalui buku tersebut akan kita temukan bahwa model Montessori lebih banyak mempergunakan perabotan rumah tangga sebagai media dan mempergunakan kegiatan rutin sehari-hari di rumah sebagai aktivitas belajar.
Temuan tentang multi kecerdasan oleh Howard Gardner juga bisa menginspirasi kita untuk menyusun kurikulum. Delapan bahkan sembilan jenis kecerdasan versi Gardner, yaitu: kecerdasan bahasa, logika-matematika, visual-spasial, fisik, interpersonal, intrapersonal, musikal, natural, dan spiritual bisa dijadikan acuan untuk memilih ragam kegiatan belajar-bermain di rumah.
Buku yang ditulis Thomas Amstrong berjudul Sekolah Para Juara mencoba menjabarkan konsep multi kecerdasan tersebut dalam konteks sekolah formal untuk anak-anak yang lebih besar. Namun bukan tidak mungkin hal itu bisa menginspirasi para orang tua yang memiliki anak usia dini untuk menerapkan jalan pikiran Amstrong ke dalam konteks belajar anak usia dini di rumah.
Kurikulum berdasarkan Perkembangan Anak
Perkembangan anak secara umum ternyata bisa diukur dengan beberapa ukuran berikut: perkembangan fisik motorik, perkembangan kognitif, perkembangan moral & sosial, emosional, dan komunikasi (Slamet Suyanto, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini:192. Penerbit: Hikayat Publishing. Yogyakarta)
Kita bisa menciptakan kurikulum dengan mengacu pada teori tersebut. Berikut gambaran kasar kurikulum yang mungkin diterapkan:
Perkembangan fisik motorik
- Motorik Kasar: Berlari, memanjat, menendang bola, menangkap
bola, bermain lompat tali, berjalan pada titian keseimbangan, dll.
- Motorik Halus: Mewarnai pola, makan dengan sendok, mengancingkan baju, menarik resluiting, menggunting pola,menyisir rambut, mengikat tali sepatu, menjahit dengan alat jahit tiruan, dll.
- Organ Sensoris:Membedakan berbagai macam rasa, mengenali berbagai macam bau, mengenali berbagai macam warna benda, mengenali berbagai benda dari ciri-ciri fisiknya, mampu membedakan berbagai macam bentuk, dll.
Perkembangan Kognitif
Misalnya: mengenal nama-nama warna,mengenal nama bagian-bagian tubuh, mengenal nama anggota keluarga,mampu membandingkan dua objek atau lebih, menghitung, menata, mengurutkan; mengetahui nama-nama hari dan bulan; mengetahui perbedaan waktu pagi, siang, atau malam; mengetahui perbedaan kecepatan (lambat dan cepat); mengetahui perbedaan tinggi dan rendah, besar dan kecil, panjang dan pendek; mengenal nama-nama huruf alfabet atau membaca kata; memahami kuantitas benda, dll.
Perkembangan Moral dan sosial
Misalnya: Mengetahui sopan santun, mengetahui aturan-aturan dalam keluarga atau sekolah jika ia bersekolah, mampu bermain dan berkomunikasi bersama teman-teman, mampu bergantian atau antre, dll.
Perkembangan Emosional
Misalnya: Menunjukkan rasa sayang pada teman, orang tua, dan saudaranya; menunjukkan rasa empati; mengetahui simbol-simbol emosi: sedih, gembira, atau marah dan mampu mengontrol emosinya sesuai kondisi yang tepat.
Perkembangan Komunikasi (Berbahasa)
Misalnya: Mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata,mampu melafalkan kata-kata dengan jelas (bisa dimengerti oleh orang lain).
Begitu beragam model kurikulum yang ada. Mau pilih yang mana? Mengumpulkan sebanyak mungkin sumber dan memilahnya sesuai kekhasan keluarga masing-masing adalah cara paling baik agar kita memiliki bahan yang lebih kaya untuk anak-anak kita.
Salam Pendidikan!
sumber : pustakanilna
TIPS: Fun, Fast Teach Children How to Read!
Free Education Program in the East Java Road
PSB Kota Bandung Terus Mengulang Kesalahan Yang Sama
BANDUNG, (PR). Organizing the reception of new students (PSB) in 2009 in Bandung City votes not to give priority service to the community. This is reflected in the various issues that are still found, ranging from lack of socialization and lack of transparency. PSB assessed continually repeat the same mistakes, have recast the system proposed in the PSB upcoming school year.
Therefore one of the discourse mengemuka in a press conference discussing the evaluation of PSB 2009 was held in Bandung Education Coalition (KPKB), Thursday (30 / 7), in the building claim Bandung Indonesia. KPKB consists of the various institutions of education activists and observers, such as the Advocacy Institute of Education (LAP), Advocacy Institute populist (LAK), Parents Students Forum (Fortusis), Indonesian Independent Teachers Federation (FGII), Teachers' Forum aspirations Indonesia (FAGI), and Agency Musyawarah Private Universities (BMPS). During the PSB, KPKB active practice in the field at once to open the posko complaints.
"Socialization is only done to the school principal. That was very time mepet. As a result, people always pasrah, are in a position not powerless. They do not have access to, and not involved," said Chairman of the LAP and Satriana.
Transparency schools also get special attention. Secretary General of Fortusis Dwi Subawanto menuturkan, during observation in the field, still found a lot of injustice, from the deception in the lane nonakademik performance, the practice of the transaction money to students phenomenon "titipan" certain leaders or officials.
School programs in the free primary education is also considered not to give comfort to guarantee access to public education are comfortable. Dwi cite, in elementary and junior high school level where prohibited levies, voluntary contributions of funds often consciously be deflected by the school became compulsory dues. Design schools so that all parents are always in a weak position and can not refuse.
Change the system
Read a variety of violations and cheating, which continues to occur from year to year, KPKB recommends that the Education Office and the Government of Bandung City PSB immediately reorganize the system. "Cute Disdik if not all see the lack of this. We have just contributed. Follow-up on them there," said Dan.
KPKB suggested, a policy that should not be taken Disdik more reactive form of action that is made after the violation occurred. According to Dan, handling individual per person is no longer sufficient. The fundamental, Disdik and local government must dare to redesign the system for PSB upcoming academic year. "If necessary, return to the reception of students the school authorities of each," he said.
KPKB also propose to the local government immediately set up a minimum standard of education services. Standards required as a guide various policies taken in the effort Disdik equity of education services in the city of Bandung. (A-165) ***
Indonesia
PSB Kota Bandung Terus Mengulang Kesalahan yang Sama