.
Latest News
Showing posts with label Cerita Anak. Show all posts
Showing posts with label Cerita Anak. Show all posts

Keledai pembawa garam

Posted by CendekiaCenter on Wednesday , under | komentar (0)



Keledai pembawa garam

Pada suatu hari di musim panas, tampak seekor keledai berjalan di pegunungan. Keledai itu membawa beberapa karung berisi garam dipunggungnya. Karung itu sangat berat, sementara matahari bersinar dengan teriknya. "Aduh panas sekali. Sepertinya aku sudah tidak kuat berjalan lagi," kata keledai. Di depan sana, tampak sebuah sungai. "Ah, ada sungai! Lebih baik aku berhenti sebentar," kata keledai dengan gembira. Tanpa berpikir panjang, ia masuk ke dalam sungai dan….


Byuur… Keledai itu terpeleset dan tercebur. Ia berusaha untuk berdiri kembali, tetapi tidak berhasil. Lama sekali keledai berusaha untuk berdiri. Anehnya, semakin lama berada di dalam air, ia merasakan beban dipunggungnya semakin ringan. Akhirnya keledai itu bisa berdiri lagi. "Ya ampun, garamnya habis!" kata tuannya dengan marah. "Oh, maaf… garamnya larut di dalam air ya?" kata keledai.

Beberapa hari kemudian, keledai mendapat tugas lagi untuk membawa garam. Seperti biasa, ia harus berjalan melewati pegunungan bersama tuannya. "Tak lama lagi akan ada sungai di depan sana," kata keledai dalam hati. Ketika berjalan menyeberangi sungai, keledai menjatuhkan dirinya dengan sengaja. Byuuur…. Tentu saja garam yang ada dipunggungnya menjadi larut di dalam air. Bebannya menjadi ringan. "Asyik! Jadi ringan!" kata keledai ringan. Namun, mengetahui keledai melakukan hal itu dengan sengaja, tuannya menjadi marah. "Dasar keledai malas!" kata tuannya dengan geram.

Keesokan harinya, keledai mendapat tugas membawa kapas. Sekali lagi, ia berjalan bersama  tuannya melewati pegunungan. Ketika sampai di sungai, lagi-lagi keledai menjatuhkan diri dengan sengaja. Byuuur…. Namun apa yang terjadi ? Muatannya menjadi berat sekali. Rupanya kapas itu menyerap air dan menjadi seberat batu. Mau tidak mau, keledai harus terus berjalan dengan beban yang ada dipunggungnya. Keledai berjalan sempoyongan di bawah terik matahari sambil membawa beban berat dipunggungnya.

Moral : Berpikirlah dahulu sebelum bertindak. Karena tindakan yang salah akan menyebabkan kerugian bagi kita.
Sumber : Elexmedia

Semut dan kepompong

Posted by CendekiaCenter on Monday , under | komentar (0)



Semut dan kepompong

Di suatu hutan yang rindang, hidup berbagai binatang buas dan jinak. Ada kelinci, burung, kucing, capung, kupu-kupu dan yang lainnya. Pada suatu hari, hutan dilanda badai yang sangat dahsyat. Angin bertiup sangat kencang, menerpa pohon dan daun-daun. Kraak…terdengar bunyi dahan-dahan berpatahan. Banyak hewan yang tidak dapat menyelamatkan dirinya, kecuali si semut yang berlindung di dalam tanah. Badai baru berhenti ketika pagi menjelang. Matahari kembali bersinar hangatnya.


Tiba-tiba dari dalam tanah muncul seekor semut. Si semut terlindung dari badai karena ia bisa masuk ke sarangnya di dalam tanah. Ketika sedang berjalan, ia melihat seekor kepompong yang tergeletak di dahan daun yang patah. Si semut bergumam,”Hmm, alangkah tidak enaknya menjadi kepompong, terkurung dan tidak bisa kemana-mana”. “Menjadi kepompong memang memalukan!” “Coba lihat aku, bisa pergi ke mana saja ku mau”, ejek semut pada kepompong. Semut terus mengulang perkataannya pada setiap hewan yang berhasil ditemuinya.

Beberapa hari kemudian, semut berjalan di jalan yang berlumpur. Ia tidak menyadari kalau lumpur yang diinjaknya bisa menghisap dirinya semakin dalam.“Aduh, sulit sekali berjalan di tempat becek seperti ini,” keluh semut. Semakin lama, si semut semakin tenggelam dalam lumpur. “Tolong…tolong,” teriak si semut.

“Wah, sepertinya kamu sedang kesulitan ya…?” Si semut terheran mendengar suara itu. Ia memandang kesekelilingnya mencari sumber suara. Dilihatnya seekor kupu-kupu yang indah terbang mendekatinya. “Hai, semut aku adalah kepompong yang dahulu engkau ejek. Sekarang aku sudah menjadi kupu-kupu. Aku bisa pergi ke mana saja dengan sayapku. Lihat… sekarang kau tidak bisa berjalan di lumpur itu kan?” Yah, aku sadar…. Aku mohon maaf karena telah mengejekmu. Maukah kau menolongku sekarang…?” kata si semut pada kupu-kupu.

Akhirnya kupu-kupu menolong semut yang terjebak dalam lumpur penghisap. Tidak berapa lama, semut terbebas dari lumpur penghisap tersebut. Setelah terbebas, semut mengucapkan terima kasih pada kupu-kupu. “Tidak apa-apa, memang sudah kewajiban kita untuk menolong yang sedang kesusahan bukan?, karenanya kamu jangan mengejek hewan lain lagi ya…? Karena setiap makhluk pasti diberikan kelebihan dan kekurangan oleh yang Maha Pencipta. Sejak saat itu, semut dan kepompong menjadi sahabat karib.

Pesan Moral : Sesama makhluk ciptaan Tuhan, janganlah saling mengejek dan menghina, karena siapa tahu yang dihina lebih baik kedudukannya daripada yang menghina.

Sumber : Elexmedia

Singa dan Nyamuk

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



Singa dan Nyamuk


Seekor singa sedang tidur-tiduran di sebuah padang rumput di hutan. Karena perutnya sudah kenyang, ia pun tertidur. Di tengah-tengah tidurnya yang pulas seekor nyamuk terbang mengelilingi sang raja hutan tersebut. Si nyamuk hendak mengisap darah singa itu. Suara nyamuk yang mendengung membuat singa terbangun.. Ia merasa terusik dengan si nyamuk.

”Mmhhh... Awas kau nyamuk! Kau sudah mengganggu tidurku. Singa berusaha menangkap si nyamuk tapi dengan gesitnya si nyamuk bisa menghindar. ”Kau menyombongkan dirimu sebagai raja binatang. Tetapi aku tak takut padamu,” ejek Nyamuk.

Singa marah sekali. Sementara itu nyamuk mencari kesempatan untuk menggigitnya. Mengakulah kalah, Taring dan cakarmu yang tajam itu pun tak mampu menyakiti diriku. Nah sekarang giliranku,” kata nyamuk lagi. Kemudian ia mengembangkan sayapnya sambil mengepak-ngepakkannya dengan dahsyat. Tak lama, nyamuk-nyamuk lain berdatangan.


”Pasukan serbu....” teriaknya. Kawanan nyamuk pun segera menyerbu. ”Tolong...” teriak Singa sembari menggaruk wajahnya. Karena tak tahan, Singa melompat ke sungai untuk mengompres wajahnya yang bengkak. ”Sekarang akuilah kekalahanmu,” seru Nyamuk. Lalu ia terbang dengan congkaknya. Tiba-tiba ia terjerat ke dalam sarang laba-laba. Ia berusaha keras untuk meloloskan diri. Tetapi laba-laba itu dengan cepat menyerang dan membunuhnya. ”Oh, tak pernah kubayangkan aku akan mati oleh makhluk sekecil ini setelah berhasil mengalahkan Singa si Raja hutan,” tangisnya..

Pesan moral : Jangan pernah menganggap suatu hal yang kecil dapat dengan mudah dilakukan. Dan jangan pernah merasa sombong dengan keberhasilan melakukan sesuatu hal yang besar.

Sumber : Serial Fabel Indonesia, Elexmedia

SERULING AJAIB

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



SERULING AJAIB

Si Kancil sedang asyik berjalan di hutan bambu. "Ternyata enak juga jalan-jalan dihutan bambu, sejuk dan begitu damai," kata kancil dalam hati. Keasyikan berjalan membuat ia lupa jalan keluar, lalu ia mencoba jalan pintas dengan menerobos pohon-pohon bambu. Tapi yang terjadi si kancil malah terjepit diantara batang pohon bambu. "Tolong! Tolong!" teriak kancil. Ia meronta-ronta, tapi semakin ia meronta semakin kuat terjepit. Ia hanya berharap mudah-mudahan ada binatang lain yang menolongnya.


Tak jauh dari hutan bambu, seekor harimau sedang beristirahat sambil mendengarkan kicauan burung. Ia berkhayal bisa bernyanyi seperti burung. "Andai aku bisa bernyanyi seperti burung, tapi siapa yang mau mengajari aku bernyanyi ya ?", tanyanya dalam hati. Semilir angin membuat harimau terkantuk-kantuk. Tak lama setelah ia mendengkur, terdengar suara berderit-derit. Suara itu semakin nyaring karena terbawa angin. "Suara apa ya itu ?" kata harimau.

"Yang pasti bukan suara kicauan burung, sepertinya suaranya datang dari arah hutan bambu, lebih baik aku selidiki saja," ujar si harimau. Suara semakin jelas ketika harimau sampai di hutan bambu. Ia mendapati ternyata seekor kancil sedang terjepit diantara pohon-pohon bambu. "Wah aku beruntung sekali hari ini, tanpa susah payah hidangan lezat sudah tersedia", ujar harimau kepada kancil sambil lidahnya berdecap melihat tubuh kancil yang gemuk. Kancil sangat ketakutan."Apa yang harus kulakukan agar bisa lolos dengan selamat ?", pikir si kancil.


"Harimau yang baik, janganlah kau makan aku, tubuhku yang kecil pasti tak akan mengenyangkanmu." "Aku tak perduli, aku sudah lama menunggu kesempatan ini," ujar si harimau. Angin tiba-tiba berhembus lagi, kriet....kriet... "Suara apa itu ?", Tanya Harimau penasaran. "Itu suara seruling ajaibku," jawab kancil dengan cepat. Otaknya yang cerdik telah menemukan suatu cara untuk meloloskan diri. "Aku bersedia mengajarimu asalkan engkau tidak memangsaku, bagaimana ?" Tanya si kancil. Harimau tergoda dengan tawaran si kancil, karena ia memang ingin dapat bernyanyi seperti burung. Ia berpikir meniup seruling tidak kalah hebat dengan bernyanyi. Tangan si kancil pura-pura asyik memainkan seruling seiring dengan hembusan angin. Sementara harimau memperhatikan dengan serius. "Koq lagunya hanya seperti itu ?", Tanya harimau. "ini baru nada dasar", jawab kancil.

"Begini caranya, coba kau kemari dan renggangkan dulu batang bambu ini dari tubuhku", kata si kancil. Harimau melakukan apa yang dikatakan kancil hingga akhirnya kancil terbebas dari jepitan pohon bambu. "Nah, sekarang masukkan lehermu dan julurkan lidahmu pada batang bambu ini. Lalu tiuplah pelan-pelan ," Kancil menerangkan dengan serius. "Jangan heran ya, kalau suaranya kadang kurang merdu, tapi kalau lagi tidak ngadat suaranya bagus lho." "Untung ada si harimau, hmm bodoh sekali dia, mana ada seruling ajaib," kata kancil dalam hati. "Harimau yang telah terjepit diantara batang bamboo tidak menyadari bahwa ia telah ditipu si kancil. "Kau mau pergi kemana, Cil ?", Tanya harimau. "Aku mau minum dulu, tenggorokanku kering karena kebanyakan meniup seuling," jawab si kancil. "Masa aku harus belajar sendiri ?", tanya harimau lagi. "Aku pergi tidak lama, nanti waktu aku kembali, kau harus sudah bisa meniupnya ya, jawab si kancil sambil pergi meninggalkan harimau.

Setelah si kancil pergi, angin bertiup semilir-semilir dan semakin lama semakin kencang. Batang-batang pohon bambu menjadi saling bergesekan dan berderit-derit. "Hore aku bisa !", seru harimau bersemangat. Karena terlalu bersemangat meniup, lidah harimau menjadi terjepit di antara batang bambu. Ia berteriak kesakitan dan segera menarik lidahnya dari jepitan batang bambu. "Wah ternyata aku telah ditipu lagi oleh si kancil, betapa bodohnya aku ini !, pasti bunyi berderit-derit itu suara batang bambu yang bergesekan. "Grr, benar-benar keterlaluan, kalau ketemu nanti akan ku hajar si kancil", kata harimau.

Setelah lelah mencari si kancil, akhirnya harimau beristirahat di bawah pohon. Angin berhembus kembali. Kriet..kriet..krietmembuat batang-batang bambu saling bergesekan dan berderit-derit. Hal ini membuat amarah harimau sedikit reda. Ia jadi mengantuk dan akhirnya tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi dapat meniup seruling asli ! Membuat para binatang menari dan menyanyi.
Sumber : Elexmedia

TIGA SEKAWAN

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



TIGA SEKAWAN

Dahulu kala, hiduplah seekor Ibu Babi dengan 3 orang anaknya. Anak yang sulung sangat malas dan mengabaikan pekerjaannya. Anak yang tengah sangat rakus, tidak mau bekerja dan kerjanya hanya makan. Anak bungsunya tidak seperti kakaknya, ia anak yang rajin bekerja. Suatu saat Ibu Babi berkata kepada anak-anaknya,"Karena kalian sudah dewasa, kalian harus hidup mandiri dan buatlah rumah masing-masing". Si bungsu berpikir rumah seperti apa yang akan didirikannya.

Si sulung tanpa mau bersusah payah membuat rumahnya dari jerami. Si bungsu berkata,"Kalau rumah jerami nanti akan hancur bila ada angin atau hujan". "Oh iya ya ! Kalau begitu aku akan membuat rumah dari kayu saja, supaya kuat jika ada angin", kata si tengah. Setelah selesai si bungsu kembali berkata,"kalau rumah kayu walau tahan angin tetapi akan hancur jika dipukul". Si kakak menjadi marah, "Kau sendiri lambat membuat rumah dari batu batamu itu, jika hari telah sore serigala akan datang."

Si bungsu bertekad akan membuat rumah dari batu-bata yang kuat yang tidak goyah dengan angin atau serangan serigala. Malampun tiba, pada saat bulan purnama, si bungsu telah selesai. Esok harinya, si bungsu mengundang kedua kakaknya, lalu mereka pergi ke rumah ibu Babi. "Hebat anak-anakku, mulai sekarang kalian hidup dengan mengolah ladang sendiri", ujar Ibu Babi. Kedua kakak si bungsu menggerutu. "Tidak ah, cape……," gerutu mereka. Menjelang senja telah tiba, mereka pamit kepada Ibu mereka. Dalam perjalanan, tiba-tiba sekeor serigala membuntuti mereka. "Aku akan memakan babi malas yang tinggal di rumah jerami itu", kata serigala. Ketika sampai di depan pintu si sulung ia langsung menendang pintu. "Buka pintu!" teriaknya. Si sulung terkejut dan cepat-cepat mengunci pintu. Tetapi serigala lebih cerdik. Ia langsung meniup rumah jerami itu sehingga menjadi hancur.


Si sulung lari ketakutan ke rumah adiknya si Tengah yang terbuat dari kayu. Walaupun pintu telah dikunci, serigala langsung mendobrak rumah kayu itu hingga hancur. Serigala mendekat ke arah kedua anak babi yang sedang berpelukan karena ketakutan. Keduanya langsung lari dengan sekuat tenaga menuju rumah si bungsu. "Cepat kunci pintunya!, nanti kita dimakan", kata si sulung. Si bungsu dengan tenang mengunci pintu. "Tak usah khawatir, rumahku tidak akan goyah", kata si bungsu sambil tertawa. Ketika serigal sampai, ia langsung menendang, mendobrak berkali-kali tetapi malah si serigala yang badannya kesakitan. Serigala akhirnya menyerah dan kemudian langsung pulang. Sejak saat itu, ketiga anak babi ini hidup bersama, dan sang serigala tidak pernah datang lagi.

Suatu hari, ketiga anak babi pergi ke bukit untuk memetik apel. Tiba-tiba Serigala itu muncul disana. Anak-anak babi langsung naik ke pohon menyelamatkan diri. Serigala yang tidak dapat memanjat pohon menunggu di bawah pohon tersebut. Si bungsu berpikir, lalu ia berteriak,"Serigala, kaupasti lapar. Apakah kau mau apel ?", si bungsu segera melempar sebuah apel. Serigala yang sudah kelaparan langsung mengejar apel yang menggelinding. "Sekarang ayo kita lari!". Akhirnya mereka semua selamat.


Beberapa hari kemudian, si serigala datang ke rumah si bungsu dengan membawa tangga yang panjang. Serigala memanjat ke cerobong asap. Si bungsu yang melihat hal itu berteriak, "Cepat nyalakan api di tungku pemanas!". Si sulung menyalakan api, si bungsu membawa kuali yang berisi air panas. Serigala yang ada di cerobong asap, pantatnya kepanasan tak tertahankan. Malang bagi si serigala, ketika ia ingin melarikan diri, ia terpeleset dan jatuh tepat ke dalam air yang mendidih. "Waaa…", serigala cepat-cepat lari. Karena seluruh badannya luka, maka ia menjadi serigala yang telanjang.



Sejak saat itu, ketiga anak-anak babi menjalani hidup  dengan baik, dengan mengelola lading-ladang mereka. Si sulung dan si tengah sekarang menjadi rajin bekerja seperti si bungsu. Ibu babi merasa bahagia melihat anak-anaknya hidup dengan rukun dan damai.

Pesan moral : Jika kita bersatu, maka kita akan terhindar dari perpecahan.
sumber : e-smartschool.com

Si Kancil Kena Batunya

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



Si Kancil Kena Batunya


Angin yang berhembus semilir-semilir membuat penghuni hutan mengantuk. Begitu juga dengan si kancil. Untuk mengusir rasa kantuknya ia berjalan-jalan dihutan sambil membusungkan dadanya. Sambil berjalan ia berkata,"Siapa yang tak kenal kancil. Si pintar, si cerdik dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku". Ketika sampai di sungai, ia segera minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang begitu jernih membuat kancil dapat berkaca. Ia berkata-kata sendirian. "Buaya, Gajah, Harimau semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya".

Si kancil tidak tahu kalau ia dari tadi sedang diperhatikan oleh seekor siput yang sedang duduk dibongkahan batu yang besar. Si siput berkata,"Hei kancil, kau asyik sekali berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira ?". Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya ia menemukan letak si siput.

"Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya ?". Siput yang kecil dan imut-imut. Eh bukan !.  "Kamu memang kecil tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran ayam". Ujar si kancil. Siput terkejut mendengar ucapan si kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel. Lalu siputpun berkata,"Hai kancil !, kamu memang cerdik dan pemberani karena itu aku menantangmu lomba adu cepat". Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu depan.


Setelah si kancil pergi, siput segera memanggil dan mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya harus berada dijalur lomba. "Jangan lupa, kalian bersembunyi dibalik bongkahan batu, dan salah satu harus segera muncul jika si kancil memanggil, dengan begitu kita selalu berada di depan si kancil," kata siput.

Hari yang dinanti tiba. Si kancil datang dengan sombongnya, merasa  ia pasti akan sangat mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai. Kancil berjalan santai, sedang siput segera menyelam ke dalam air. Setelah beberapa langkah, kancil memanggil siput. Tiba-tiba siput muncul di depan kancil sambil berseru,"Hai Kancil ! Aku sudah sampai sini." Kancil terheran-heran, segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi. Ternyata siput juga sudah berada di depannya. Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul di depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir finish, ia memanggil siput, tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi pemenang perlombaan.

Si kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis kancil berkata,"Kancil memang tiada duanya." Kancil dikagetkan ketika ia mendengar suara siput yang sudah duduk di atas batu besar. "Oh kasihan sekali kau kancil. Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari ?". Ejek siput. "Tidak mungkin !", "Bagaimana kamu bisa lebih dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang", seru si kancil.


"Sudahlah akui saja kekalahanmu,"ujar siput. Kancil masih heran dan tak percaya kalau a dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Kancil menundukkan kepala dan mengakui kekalahannya. "Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok. Aku hanya ingin kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu dalam menyelesaikan setiap masalah, kamu harus mengakui bahwa semua binatang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan menyepelekan mereka", ujar siput. Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggallah si kancil dengan rasa menyesal dan malu.

Pesan Moral : Janganlah suka menyombongkan diri dan menyepelekan orang lain, walaupun kita memang cerdas dan pandai.  sumber : e-smartschool.com

Bende Wasiat

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



Bende Wasiat


Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil membasuh mukanya. "Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku kuat berotot dan warna lorengku sangat indah," kata harimau dalam hati. Kesombongan harimau membuatnya suka memerintah dan berbuat semena-mena pada binatang lain yang lebih kecil dan lemah. Si kancil akhirnya tidak tahan lagi. "Benar-benar keterlaluan si harimau !" kata Kancil menahan marah. "Dia mesti diberi pelajaran! Biar kapok! Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka berbincang-bincang tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana cara membuat si harimau kapok.

Setelah lama terdiam, "Hmm, aku ada ide," kata si kancil tiba-tiba. "Tapi kau harus menolongku," lanjut si kancil. "Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah menghajarmu karena telah menggangguku, dan katakan juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa saja yang berani menggangguku, termasuk harimau, karena aku sedang menjalankan tugas penting," kata kancil pada kelinci. "Tugas penting apa, Cil?" tanya kelinci heran. " Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku akan menunggu Harimau disana." "Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?", kata kelinci. "Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil yang cerdik". "Iya, iya. Aku percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi."

Si kelincipun berjalan menemui harimau yang sedang bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan yang terjadi padanya. Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram mendengarnya. "Apa ? Kancil mau menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke tempat kancil berada. "Itu dia si Kancil!" kata Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar di ujung jalan. "Kita hampir sampai, harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita padamu, nanti aku dihajar lagi," kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-semak.


"Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?" Tanya harimau sambil marah. "Jangan bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting". "Tugas penting apa?". Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya. "Aku harus menjaga bende wasiat itu." Bende wasiat apa sih itu?" Tanya harimau heran. "Bende adalah semacam gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali, tidak bisa terlukis dengan kata-kata. Harimau jadi penasaran. "Aku boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah mendengar suara merdu dari bende itu." "Jangan, jangan," kata Kancil. Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat, "Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?", kata si kancil.

Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang terjadi…. Ternyata bende itu adalah sarang lebah! Nguuuung…nguuuung…..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu. Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau. "Tolong! Tolong!" teriak harimau kesakitan sambil berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah sungai. Byuur! Harimau langsung melompat masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat dari serangan lebah. "Grr, awas kau Kancil!" teriak Harimau menahan marah. "Aku dibohongi lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang ya?". Walaupun tidak mendengar suara merdu bende wasiat, harimau tidak terlalu kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi.


"Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit-birit disengat lebah," kata kancil. "Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?". "Aku harap harimau bisa mengambil manfaat dari kejadian ini," kata kelinci penuh harap."

Pesan Moral : Semua makhluk hidup mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena itu, kita tidak boleh sombong dan memperlakukan makhluk hidup lain semena-mena. sumber : e-smartschool.com

Kera Jadi Raja

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



Kera Jadi Raja

Sang Raja hutan "Singa" ditembak pemburu, penghuni hutan rimba jadi gelisah. Mereka tidak mempunyai Raja lagi. Tak berapa seluruh penghuni hutan rimba berkumpul untuk memilih Raja yang baru. Pertama yang dicalonkan adalah Macan Tutul, tetapi macan tutul menolak. "Jangan, melihat manusia saja aku sudah lari tunggang langgang," ujarnya. "Kalau gitu Badak saja, kau kan amat kuat," kata binatang lain. "Tidak-tidak, penglihatanku kurang baik, aku telah menabrak pohon berkali-kali." "Oh…mungkin Gajah saja yang jadi Raja, badan kau kan besar..", ujar binatang-binatang lain. "Aku tidak bisa berkelahi dan gerakanku amat lambat," sahut gajah.

Binatang-binatang menjadi bingung, mereka belum menemukan raja pengganti. Ketika hendak bubar,  tiba-tiba kera berteriak, "Manusia saja yang menjadi raja, ia kan yang sudah membunuh Singa". "Tidak mungkin," jawab tupai. "Coba kalian semua perhatikan aku…, aku mirip dengan manusia bukan ?, maka akulah yang cocok menjadi raja," ujar kera. Setelah melalui perundingan, penghuni hutan sepakat Kera menjadi raja yang baru. Setelah diangkat menjadi raja, tingkah laku Kera sama sekali tidak seperti Raja. Kerjanya hanya bermalas-malasan sambil menyantap makanan yang lezat-lezat.

Penghuni binatang menjadi kesal,  terutama srigala. Srigala berpikir, "bagaimana si kera bisa menyamakan dirinya dengan manusia ya?, badannya saja yang sama, tetapi otaknya tidak". Srigala mendapat ide. Suatu hari, ia menghadap kera. "Tuanku, saya menemukan makanan yang amat lezar, saya yakin tuanku pasti suka. Saya akan antarkan tuan ke tempat itu," ujar srigala. Tanpa pikir panjang, kera, si Raja yang baru pergi bersama srigala. Di tengah hutan, teronggok buah-buahan kesukaan kera. Kera yang tamak langsung menyergap buah-buahan itu. Ternyata, si kera langsung terjeblos ke dalam tanah. Makanan yang disergapnya ternyata jebakan yang dibuat manusia. "Tolong…tolong," teriak kera, sambil berjuang keras agar bisa keluar dari perangkap.

"Hahahaha! Tak pernah kubayangkan, seorang raja bisa berlaku bodoh, terjebak dalam perangkap yang dipasang manusia, Raja seperti kera mana bisa melindungi rakyatnya," ujar srigala dan binatang lainnya. Tak berapa lama setelah binatang-binatang meninggalkan kera, seorang pemburu datang ke tempat itu. Melihat ada kera di dalamnya, ia langsung membawa tangkapannya ke rumah.

Pesan Moral : Perlakukanlah teman-teman kita dengan baik, janganlah sombong dan bermalas-malasan. Jika kita sombong dan memperlakukan teman-teman semena-mena, nantinya kita akan kehilangan mereka.
sumber : e-smartschool.com

Kelelawar Yang Pengecut

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



Kelelawar Yang Pengecut

Di sebuah padang rumput di Afrika, seekor Singa sedang menyantap makanan. Tiba-tiba seekor burung elang terbang rendah dan menyambar makanan kepunyaan Singa. “Kurang ajar” kata singa. Sang Raja hutan itu sangat marah sehingga memerintahkan seluruh binatang untuk berkumpul dan menyatakan perang terhadap bangsa burung.

“Mulai sekarang segala jenis burung adalah musuh kita”, usir mereka semua, jangan disisakan !” kata Singa. Binatang lain setuju sebab mereka merasa telah diperlakukan sama oleh bangsa burung. Ketika malam mulai tiba, bangsa burung kembali ke sarangnya.

Kesempatan itu digunakan oleh para Singa dan anak buahnya untuk menyerang. Burung-burung kocar-kacir melarikan diri. Untung masih ada burung hantu yang dapat melihat dengan jelas di malam hari sehingga mereka semua bisa lolos dari serangan singa dan anak buahnya.

Melihat bangsa burung kalah, sang kelelawar merasa cemas, sehingga ia bergegas menemui sang raja hutan. Kelelawar berkata,”Sebenarnya aku termasuk bangsa tikus, walaupun aku mempunyai sayap. Maka izinkan aku untuk bergabung dengan kelompokmu, Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk bertempur melawan burung-burung itu”. Tanpa berpikir panjang singa pun menyetujui kelelawar masuk dalam kelompoknya.

Malam berikutnya kelompok yang dipimpin singa kembali menyerang kelompok burung dan berhasil mengusirnya. Keesokan harinya, menjelang pagi, ketika kelompok Singa sedang istirahat kelompok burung menyerang balik mereka dengan melempari kelompok singa dengan batu dan kacang-kacangan. “Awas hujan batu,” teriak para binatang kelompok singa sambil melarikan diri. Sang kelelawar merasa cemas dengan hal tersebut sehingga ia berpikiran untuk kembali bergabung dengan kelompok burung. Ia menemui sang raja burung yaitu burung Elang. “Lihatlah sayapku, Aku ini seekor burung seperti kalian”. Elang menerima kelelawar dengan senang hati.

Pertempuran berlanjut, kera-kera menunggang gajah atau badak sambil memegang busur dan anak panah. Kepala mereka dilindungi dengan topi dari tempurung kelapa agar tidak mempan dilempari batu. Setelah kelompok singa menang, apa yang dilakukan kelelawar ?. Ia bolak balik berpihak kepada kelompok yang menang. Sifat pengecut dan tidak berpendirian yang dimiliki kelelawar lama kelamaan diketahui oleh kedua kelompok singa dan kelompok burung.

Mereka sadar bahwa tidak ada gunanya saling bermusuhan. Merekapun bersahabat kembali dan memutuskan untuk mengusir kelelawar dari lingkungan mereka. Kelelawar merasa sangat malu sehingga ia bersembunyi di gua-gua yang gelap. Ia baru menampakkan diri bila malam tiba dengan cara sembunyi-sembunyi. sumber : e-smartschool.com

Kancil si pencuri Timun

Posted by CendekiaCenter on Saturday , under | komentar (0)



Kancil si pencuri Timun

Siang itu panas sekali. Matahari bersinar garang. Tapi hal itu tidak terlalu dirasakan oleh Kancil. Dia sedang tidur nyenyak di bawah sebatang pohon yang rindang.
Tiba-tiba saja mimpi indahnya terputus. "Tolong! Tolong! " terdengar teriakan dan jeritan berulang-ulang. Lalu terdengar suara derap kaki binatang yang sedang berlari-lari.
"Ada apa, sih?" kata Kancil. Matanya berkejap-kejap, terasa berat untuk dibuka karena masih mengantuk.
Di kejauhan tampak segerombolan binatang berlari-lari menuju ke arahnya. "Kebakaran! Kebakaran! " teriak Kambing. " Ayo lari, Cil! Ada kebakaran di hutan! "
Memang benar. Asap tebal membubung tinggi ke angkasa. Kancil ketakutan melihatnya. Dia langsung bangkit dan berlari mengikuti teman-temannya.

Kancil terus berlari. Wah, cepat juga larinya. Ya, walaupun Kancil bertubuh kecil, tapi dia dapat berlari cepat. Tanpa terasa, Kancil telah berlari jauh, meninggalkan teman-temannya.
"Aduh, napasku habis rasanya," Kancil berhenti dengan napas terengah-engah, lalu duduk beristirahat. "Lho, di mana binatang-binatang lainnya?" Walaupun Kancil senang karena lolos dari bahaya, tiba-tiba ia merasa takut. "Wah, aku berada di mana sekarang? Sepertinya belum pernah ke sini."
Kancil berjalan sambil mengamati daerah sekitarnya. "Waduh, aku tersesat. Sendirian lagi. Bagaimana ini?'7 Kancil semakin takut dan bingung. "Tuhan, tolonglah aku."

Kancil terus berjalan menjelajahi hutan yang belum pernah dilaluinya. Tanpa terasa, dia tiba di pinggir hutan. Ia melihat sebuah ladang milik Pak Tani.
"Ladang sayur dan buah-buahan? Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan," mata Kancil membelalak. Ladang itu penuh dengan sayur dan buah-buahan yang siap dipanen. Wow, asyik sekali!
"Kebetulan nih, aku haus dan lapar sekali," kata Kancil sambil menelan air liurnya. "Tenggorokanku juga terasa kering. Dan perutku keroncongan minta diisi. Makan dulu, ah."

Dengan tanpa dosa, Kancil melahap sayur dan buahbuahan yang ada di ladang. Wah, kasihan Pak Tani. Dia pasti marah kalau melihat kejadian ini. Si Kancil nakal sekali, ya?
"Hmm, sedap sekali," kata Kancil sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. "Andai setiap hari pesta seperti ini, pasti asyik."
Setelah puas, Kancil merebahkan dirinya di bawah sebatang pohon yang rindang. Semilir angin yang bertiup, membuatnya mengantuk. "Oahem, aku jadi kepingin tidur lagi," kata Kancil sambil menguap.
Akhirnya binatang yang nakal itu tertidur, melanjutkan tidur siangnya yang terganggu gara-gara kebakaran di hutan tadi. Wah, tidurnya begitu pulas, sampai terdengar suara dengkurannya. Krr... krr... krrr...

Ketika bangun pada keesokan harinya, Kancil merasa lapar lagi. "Wah, pesta berlanjut lagi, nih," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kali ini aku pilih-pilih dulu, ah. Siapa tahu ada buah timun kesukaanku."
Maka Kancil berjalan-jalan mengitari ladang Pak Tani yang luas itu. "Wow, itu dia yang kucari! " seru Kancil gembira. "Hmm, timunnya kelihatan begitu segar. Besarbesar lagi! Wah, pasti sedap nih."
Kancil langsung makan buah timun sampai kenyang. "Wow, sedap sekali sarapan timun," kata Kancil sambil tersenyum puas.
Hari sudah agak siang. Lalu Kancil kembali ke bawah pohon rindang untuk beristirahat.

Pak Tani terkejut sekali ketika melihat ladangnya. "Wah, ladang timunku kok jadi berantakan-begini," kata Pak Tani geram. "Perbuatan siapa, ya? Pasti ada hama baru yang ganas. Atau mungkinkah ada bocah nakal atau binatang lapar yang mencuri timunku?"
Ladang timun itu memang benar-benar berantakan. Banyak pohon timun yang rusak karena terinjak-injak. Dan banyak pula serpihan buah timun yang berserakan di tanah. 7 @ Hm, awas, ya, kalau sampai tertangkap! " omel Pak Tani sambil mengibas-ngibaskan sabitnya. "Panen timunku jadi berantakan."
Maka seharian Pak Tani sibuk membenahi kembali ladangnya yang berantakan.

Dari tempat istirahatnya, Kancil terus memperhatikan Pak Tani itu. "Hmm, dia pasti yang bernama Pak Tani," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kumisnya boleh juga. Tebal,' hitam, dan melengkung ke atas. Lucu sekali. Hi... hi... hi....
Sebelumnya Kancil memang belum pernah bertemu dengan manusia. Tapi dia sering mendengar cerita tentang Pak Tani dari teman-temannya. "Aduh, Pak Tani kok lama ya," ujar Kancil. Ya, dia telah menunggu lama sekali. Siang itu Kancil ingin makan timun lagi. Rupanya dia ketagihan makan buah timun yang segar itu.
Sore harinya, Pak Tani pulang sambil memanggul keranjang berisi timun di bahunya. Dia pulang sambil mengomel, karena hasil panennya jadi berkurang. Dan waktunya habis untuk menata kembali ladangnya yang berantakan.
"Ah, akhirnya tiba juga waktu yang kutunggu-tunggu," Kancil bangkit dan berjalan ke ladang. Binatang yang nakal itu kembali berpesta makan timun Pak Tani.


Keesokan harinya, Pak Tani geram dan marah-marah melihat ladangnya berantakan lagi. "Benar-benar keterlaluan! " seru Pak Tani sambil mengepalkan tangannya. "Ternyata tanaman lainnya juga rusak dan dicuri."
Pak Tani berlutut di tanah untuk mengetahui jejak si pencuri. "Hmm, pencurinya pasti binatang," kata Pak Tani. "Jejak kaki manusia tidak begini bentuknya."
Pemilik ladang yang malang itu bertekad untuk menangkap si pencuri. "Aku harus membuat perangkap untuk menangkapnya! "
Maka Pak Tani segera meninggalkan ladang. Setiba di rumahnya, dia membuat sebuah boneka yang menyerupai manusia. Lalu dia melumuri orang-orangan ladang itu dengan getah nangka yang lengket!

Pak Tani kembali lagi ke ladang. Orang-orangan itu dipasangnya di tengah ladang timun. Bentuknya persis seperti manusia yang sedang berjaga-jaga. Pakaiannya yang kedodoran berkibar-kibar tertiup angin. Sementara kepalanya memakai caping, seperti milik Pak Tani.
"Wah, sepertinya Pak Tani tidak sendiri lagi," ucap Kancil, yang melihat dari kejauhan. "Ia datang bersama temannya. Tapi mengapa temannya diam saja, dan Pak Tani meninggalkannya sendirian di tengah ladang?"
Lama sekali Kancil menunggu kepergian teman Pak Tani. Akhirnya dia tak tahan. "Ah, lebih baik aku ke sana," kata Kancil memutuskan. "Sekalian minta maaf karena telah mencuri timun Pak Tani. Siapa tahu aku malah diberinya timun gratis."

"Maafkan saya, Pak," sesal Kancil di depan orangorangan ladang itu. "Sayalah yang telah mencuri timun Pak Tani. Perut saya lapar sekali. Bapak tidak marah, kan?"
Tentu saj,a orang-orangan ladang itu tidak menjawab. Berkali-kali Kancil meminta maaf. Tapi orang-orangan itu tetap diam. Wajahnya tersenyum, tampak seperti mengejek Kancil.
"Huh, sombong sekali!" seru Kancil marah. "Aku minta maaf kok diam saja. Malah tersenyum mengejek. Memangnya lucu apa?" gerutunya.
Akhirnya Kancil tak tahan lagi. Ditinjunya orangorangan ladang itu dengan tangan kanan. Buuuk! Lho, kok tangannya tidak bisa ditarik? Ditinjunya lagi dengan tangan kiri. Buuuk! Wah, kini kedua tangannya melekat erat di tubuh boneka itu.
" Lepaskan tanganku! " teriak Kancil j engkel. " Kalau tidak, kutendang kau! " Buuuk! Kini kaki si Kancil malah melekat juga di tubuh orang-orangan itu. "Aduh, bagaimana ini?"

Sore harinya, Pak Tani kembali ke ladang. "Nah, ini dia pencurinya! " Pak Tani senang melihat jebakannya berhasil. "Rupanya kau yang telah merusak ladang dan mencuri timunku." Pak Tani tertawa ketika melepaskan Kancil. "Katanya kancil binatang yang cerdik," ejek Pak Tani. "Tapi kok tertipu oleh orang-orangan ladang. Ha... ha... ha.... "
Kancil pasrah saja ketika dibawa pulang ke rumah Pak Tani. Dia dikurung di dalam kandang ayam. Tapi Kancil terkejut ketika Pak Tani menyuruh istrinya menyiapkan bumbu sate.
" Aku harus segera keluar malam ini j uga I " tekad Kancil. Kalau tidak, tamatlah riwayatku. "
Malam harinya, ketika seisi rumah sudah tidur, Kancil memanggil-manggil Anjing, si penjaga rumah. "Ssst... Anjing, kemarilah," bisik Kancil. "Perkenalkan, aku Kancil. Binatang piaraan baru Pak Tani. Tahukah kau? Besok aku akan diajak Pak Tani menghadiri pesta di rumah Pak Lurah. Asyik, ya?"

Anjing terkejut mendengarnya. "Apa? Aku tak percaya! Aku yang sudah lama ikut Pak Tani saja tidak pernah diajak pergi. Eh, malah kau yang diajak."
Kancil tersenyum penuh arti. "Yah, terserah kalau kau tidak percaya. Lihat saja besok! Aku tidak bohong! "
Rupanya Anjing terpengaruh oleh kata-kata si Kancil. Dia meminta agar Kancil membujuk Pak Tani untuk mengajakn-ya pergi ke pesta.
"Oke, aku akan berusaha membujuk Pak Tani," janji Kancil. "Tapi malam ini kau harus menemaniku tidur di kandang ayam. Bagaimana?" Anjing setuju dengan tawaran Kancil. Dia segera membuka gerendel pintu kandang, dan masuk. Dengan sigap, Kancil cepat-cepat keluar dari kandang.
"Terima kasih," kata Kancil sambil menutup kembali gerendel pintu. "Maaf Iho, aku terpaksa berbohong. Titip salam ya, buat Pak Tani. Dan tolong sampaikan maafku padanya." Kancil segera berlari meninggalkan rumah Pak Tani. Anjing yang malang itu baru menyadari kejadian sebenarnya ketika Kancil sudah menghilang.

Kancil yang cerdik, temyata mudah diperdaya oleh Pak Tani. Itulah sebabnya kita tidak boleh takabur.
Sumber : e-smartschool.com

Ular Hitam Bukit Kangin

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



Ular Hitam Bukit Kangin

Di daerah pedalaman pulau Bali terdapat sebuah desa yang subur, makmur, aman dan damai bernama desa Tenganan. Namun, pada suatu hari penduduk desa dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki yang berpakaian compang-camping seperti layaknya pengembara yang kehabisan bekal. "Siapakah namamu? Darimana asalmu?" tanya seorang pemuka mayarakat bernama Jero Pasek Tenganan. "Nama saya I Tundung. Saya orang miskin, tidak punya tempat tinggal tetap," jawab lelaki itu.


Jero Pasek Tenganan merasa iba melihat keadaan I Tundung. Lantas ia memberikan makanan dan minum secukupnya. Ucapan terima kasih tak henti-hentinya disampaikan I Tundung kepada Jero Pasek Tenganan. "Maaf, tuan. Kalau tuan berkenan, saya ingin mengabdikan diri kepada tuan," pinta I Tundung. "Pekerjaan apapun yang tuan berikan, akan saya kerjakan dengan senang hati," tambah I Tundung. Karena kasihan Jero Pasek menerima permintaan I Tundung. Maka, mulai saat itu I Tundung tinggal di rumah Jero Pasek.

I Tundung sangat rajin bekerja. Selain bercocok tanam di sawah dan di ladang, ia pun memelihara ternak. Hasil taninya sangat memuaskan. "Hem, dia mempunyai tangan dingin. Sehingga tanaman apa pun yang ia tanam tumbuh subur dan hasilnya melimpah," kata seorang petani kepada temannya. "Dan ia mempunyai bakat beternak. Sehingga ternak jenis apa pun cepat menjadi gemuk dan beranak pinak," ucap teman petani itu.

Melihat hasil kerja yang berlimpah itu, I Tundung tidak sombong. Ia bahkan menularkan ilmu taninya kepada petani lain. Namun, kunci keberhasilannya adalah harus tekun dan rajin bekerja. Pada suatu hari, Jero Pasek memanggil I Tundung. "Melihat hasil pekerjaanmu, aku akan menyerahkan sebidang tanah di Bukit Kangin. Tanah itu tandus dan gersang, sehingga tidak ada orang yang mau mengolahnya," kata Jero Pasek kepada I Tundung. "Aku yakin, kau mampu menggarapnya dan hasilnya pun akan melimpah," tambah Jero Pasek.

Sejak saat itu, I Tundung pindah tempat tinggalnya ke Bukit Kangin. Ia menggarap lahan yang tandus dan gersang itu bukan hanya dengan tenaga yang digunakan, tetapi akal. I Tundung melihat ada sebuah mata air di lereng gunung. "Hem, mata air itu akan kualirkan kemari. Dengan begitu, aku akan lebih mudah menggarap lahan ini," gumam I Tundung penuh keyakinan. Dengan segala daya upaya yang tiada henti, akhirnya air dari mata air di lereng gunung itu berhasil dialirkan ke Bukit Kangin. Ia mulai bercocok tanam padi, jagung dan sayur mayur.


Tibalah saat panen. Hasilnya melimpah ruah. Jero Pasek memuji keberhasilan I Tundung. "Aku sangat bangga dengan usahamu yang tak kenal lelah. Kau bisa membuktikan kecakapanmu bertani. Maka mulai saat ini, kau kuberi tugas untuk menggarap lahan di seluruh bukit," kata Jero Pasek kepada I Tundung. Ternyata I Tundung bisa mengolah lahan di Bukit Kangin menjadi tanah pertanian dan peternakan yang maju.

Setelah Jero Pasek dan I Tundung menikmati hasil dari lahan di Bukit Kangin, terjadilah musibah. Hampir setiap malam hasil lahan pertaniannya banyak yang hilang. Bukan hanya itu. Ternak yang dipelihara di lahan itu pun satu demi satu hilang dari kandangnya. Betapapun I Tundung sudah menjaga sekuat tenaga, namun tetap saja terjadi pencurian.

"Aku sangat kecewa dengan kejadian yang sangat merugikan itu. Mungkin, kau sudah bosan merawat atau menjaga lahan pertanian dan ternak, sehingga sering terjadi pencurian itu," kata Jero Pasek kepada I Tundung. Tentu saja, perasaan hati I Tundung bagaikan tertusuk pisau mendengar ucapan Jero Pasek itu.

I Tundung sangat malu dengan Jero Pasek, karena tidak bisa mengatasi pencurian yang berada di lahan garapannya. Setiap malam ia merenung sambil memutar otak bagaimana cara mengatasi pencuri yang lihat itu. Di tengah malam yang hening, I Tundung masuk ke sebuah pura di lahan garapannya. Pura itu bernama Pura Naga Sundung. Ia berdoa sangat khusuk mohon agar dapat mengatasi pencurian yang sangat merugikan itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara gaib yang terngiang-ngiang ditelinganya.

"Permohonanmu dikabulkan, asalkan kau mau mengikuti perintahku," bunyi suara gaib. Kau harus rela berubah menjadi ular hitam, tambah suara gaib itu. Jadikanlah diri hamba apa saja, asalkan hamba dapat menghapus rasa malu dan dapat mengabdi pada tuan Jero Pasek," ucap I Tundung. Setelah mengucapkan kata-kata itu. I tundung merasakan kaki dan lehernya bertambah panjang dan berubah menjadi seekor ular hitam yang besar.

Pada suatu hari, Jero Pasek ingin menemui I Tundung di lahan Bukit Kangin. Namun, setelah ia menyusuri seluruh bukit, ternyata ia tidak menemukan I Tundung. Jero Pasek tak putus asa mencari I Tundung. Tibalah ia di Pura Sundung. Betapa terkejutnya ia melihat ada seekor ular hitam legam yang sangat besar. "Jangan takut, tuan Jero Pasek. Hamba adalah I Tundung yang telah menjelma menjadi ular hitam. Hamba berjanji tetap mengabi pada tuan dan bersedia menjaga lahan Bukit Kangin ini. Bila ada yang berani mencuri hasil lahan dan ternak, mereka akan ku usir," ucap I Tundung.

"Maafkan aku, I Tundung. Bukannya aku tidak mempercayaimu. Melainkan aku ingin memberi kepercayaan sepenuhnya kepadamu untuk mengolah, merawat dan menjada hasil lahan di Bukit ini," kata Jero Pasek mantap. "Nah, mulai sekarang kau kuberi tugas untuk menjaga lahan ini sampai anak keturunanmu," lanjut Jero Pasek. Mendengar tugas itu, ular hitam legam yang dinamai Lelipi Selem Bukit itu perlahan-lahan masuk ke semak-semak. Sejak itu, di Bukit Kangin tidak ada lagi pencurian.

Moral : Sebuah kesetiaan yang tulus, diperlukan pengorbanan apa pun bentuknya. Hal ini telah dibuktikan oleh I Tundung yang mengabdi kepada Jero Pasek Tenganan. Sumber : Cerita Asli Indonesia - Elexmedia

Puteri Luh Candrasasi

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



Puteri Luh Candrasasi

Pada suatu waktu ada seorang raja yang bernama Prabu Maha Sila. Ia merasa bingung karena putrinya dilamar dari berbagai negeri. Mereka terdiri dari Raja, Pangeran, Putra Mahkota, Adipati, bahkan orang-orang sakti berdatangan ingin melamar Puteri Luh Candrasasi yang terkenal kecantikannnya.

Untuk menentukan calon menantunya, Prabu Maha Sila sangat berhati-hati. Hal ini mengingat bila pilihannya tidak tepat, pasti bagi yang tidak terpilih akan membuat kekacauan. Bahkan mungkin bisa terjadi perang dan pertumpahan darah . "Anakku, hal itu jangan sampai terjadi," kata Prabu Maha Sila kepada Puteri Luh Candrasasi.

Memohonlah kepada Sang Hyang Maha Agung agar kau tidak salah pilih," ucap Prabu Maha Sila menguatkan hati Puteri Luh Candrasasi. "Ayahanda jangan khawatir. Ananda akan memilih siapapun, asal ada yang memenuhi syarat," ungkap Luh Candrasasi. "Syarat apa itu?" desak Prabu Maha Sila. "Barang siapa yang dapat membawakan mata naga putih dan sisiknya, dialah yang akan menjadi suami ananda. Siapapun orangnya dan asalnya," jawab Luh Candrasasi.

Puteri Luh Candrasasi segera menyampaikan syarat itu kepada para pelamar. "Sangat bijaksana!" seru para pelamar serentak. Maka, mereka segera berlomba-lomba mencari mata dan sisik naga putih. Mereka menyebar ke berbagai pelosok negeri bahkan ada yang sampai ke negeri seberang. Hutan belantara mereka masuki. Gunung, lembah atau ngarai mereka lalui. Jurang dan gua yang sangat angkerpun mereka masuki. Tetapi, tidak satu pun berhasil. Bahkan ada beberapa pelamar tersesat tidak bisa kembali ke rumahnya.

Sementara itu, di luar bata wilayah kerajaan Prabu Maha Sila, ada seorang pemuda sederhana dari rakyat biasa. Ia bernama Manik Angkeran. Ia telah mendengar bahwa di istana kerajaan, puteri raja mengadakan sayembara: "Barang siapa yang berhasil mendapatkan mata dan sisik naga putih akan diterima sebagai suaminya." Manik Angkeran pun pernah bermimpi bertemu dengan Puteri Luh Candrasasi.

Dalam mimpinya itu Manik Angkeran jatuh cinta dengan Luh Candrasasi, begitu pula sebaliknya. Melihat kenyataan itu, Manik Angkeran segera menghadap gurunya di gua Naga Putih. Manik Angkeran minta tolong kepada gurunya untuk mencarikan mata dan sisik naga putih. "Muridku, apakah kau bersedia berkorban apapun demi kekasih pujaanmu itu?" tanya guru Manik Angkeran yang berjubah putih. Manik Angkeran menyanggupi betapa jiwa dan ragapun yang menjadi korban.

"Bagus. Akupun berani berkorban demi orang lain yang membutuhkan pertolongan," ucap guru Manik Angkeran itu. "Nah, sekarang lihatlah diriku yang sebenarnya," ucap guru Manik Angkeran, yang saati itu secara perlahan-lahan berubah menjadi seekor naga putih. Betapa terkejut Manik Angkeran melihat kejadian itu. "Inilah wujud asliku yang sebenarnya. Seekor Naga Putih. Berkat kekhusukan tapaku, aku diperkenankan oleh Sang Dewata, bisa berubah menjadi manusia. Dan aku harus rela memberi darma kepada siapapun tanpa pandang bulu. Apalagi, dengan kau sebagai murid yang sangat kussayangi," kata guru Manik Angkeran yang sudah berubah wujud menjadi seekor Naga Putih.

Naga Putih segera mengorek sendiri kedua buah matanya dan menggetarkan tubuhnya, sehingga ada sepuluh buah sisik yang berjatuhan. "Nah, sekarang terimalah kedua mataku dan sepuluh buah sisik tubuhku. Dan segera berikanlah kepada kekasihmu Luh Candrasasi," kata Naga Putih. "Dan ingat pesanku dengan baik, jika kelak kau mempunyai anak laki-laki hendaknya kau beri nama Naga Rangsang. Sedangkan, jika anak perempuan terserah nama yang akan kau berikan. Dan sekarang sudah saatnya, aku menghadap Sang Hyang Maha Agung." Setelah berkata demikian, hilanglah Naga Putih dari pandangan Manik Angkeran.

Dengan hati sedih Manik Angkeran segera mengambil dua buah mata dan sepuluh buah
sisik Naga Putih. Lantas, ia bergegas menghadap Puteri Luh Candrasasi. Tentu saja betapa senangnya, Puteri Luh Candrasasi melihat ada orang yang memenuhi syarat yang telah ditentukan. Maka, tidak berapa lama kemudian Puteri Luh Candrasasi menikah dengan Manik Angkeran. Legalah hati Prabu Maha Sila. Demikian pula Puteri Luh Candrasasi. Tetapi, tidak demikian yang dialami Manik Angkeran. Ia murung dan sering berputus asa. "Kakanda, kenapa kau nampak murung dan bersedih? Apa yang sedang kau pikirkan? Desak puteri Luh Candrasasi. "Ketahuilah, istriku. Sebenarnya umurku ini sangat pendek. Saat matahari mulai terbenam, aku harus sudah meninggalkan dunia fana ini," ungkap Manik Angkeran lemah.

Tak terlukiskan hati pedih yang dialami puteri Luh Candrasasi. Tiba-tiba ia jatuh pingsan dan sukmanya meninggalkan raganya. Tatkala itu, Luh Candrasasi melihat sukma suaminya digandeng Dewata, sukma Luh Candrasasi segera mengejarnya. "Kau belum waktunya meninggal! Kau akan meninggal jika telah melahirkan seorang putera!" seru sang Dewata. "Tidak! Hamba ingin mengikuti suami hamba!" jawab sukma Luh Candrasasi. "Hamba tidak mungkin melahirkan seorang putera, jika suami hamba telah mati sekarang. Maka mau tak mau, sukma suami hamba harus dikembalikan ke dunia lagi. Hamba tidak ingin berpisah dengan suami hamba," ucap sukma Luh Candrasasi beruntun.

Mendengar permintaan sukma Luh Candrasasi itu, Sang Dewata segera mengabulkannya. Sebenarnya Sang Dewata hanya menguji kesetiaan puteri Luh Candrasasi terhadap Manik Angkeran yang berasal dari rakyat biasa. Sang Dewata segera mengusap dahi kedua sukma itu. Suatu keajaiban terjadi. Raga Manik Angkeran dan Luh Candrasasi perlahan-lahan bergerak dan bangkit. Mereka hidup kembali. Sepasang suami istri itu hidup bahagia sampai hari tuanya.

Moral : Cinta dan kesetiaan yang kokoh tidak dapat diceraikan oleh siapa pun. Hal ini ditunjukkan oleh Puteri Luh Candrasasi yang ingin sehidup semati bersama dengan Manik Angkeran yang berasal dari rakyat biasa. Sumber : Cerita Asli Indonesia Elexmedia

Panji Semirang

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



Panji Semirang

Alkisah, di Pulau Jawa ada sebuah kerajaan besar bernama Kuripan. Rajanya mempunyai seorang putra mahkota bernama Raden Inu Kertapati. Ia sudah lama dipertunangkan dengan seorang putri dari kerajaan Daha bernama Dewi Candra Kirana. Pada suatu hari, Raden Inu Kertapati mengunjungi kekasihnya di Daha, diiringi pengawal dan perbekalan lengkap. Di tengah perjalanan rombongan Raden Inu Kertapati dihadang segerombolan penjahat. Konon gerombolan penjahat itu berasal dari negeri Asmarantaka yang dipimpin oleh Panji Semirang. Namun anehnya, penghadangnya tidak disertai dengan sikap yang hendak menyerang. Tetapi lebih mirip penyambutan. Hal ini membuat Raden Inu terheran-heran.


Dua orang anggota gerombolan penjahat maju mendekati Raden Inu Kertapati. Mereka bernama Kuda Perwira dan Kuda Peranca. “Hamba harap Raden segera menemui Raden Panji Semirang,” kata Kuda Perwira kepada Raden Inu Kertapati. Dengan tidak merasa gentar sedikit pun tetapi tetap waspada, Raden Inu Kertapati segera menuju tempat Panji Semirang berada. Panji Semirang menyambutnya dengan penuh keramahan.

Panji Semirang menjelaskan bahwa negeri Asmarantaka bukanlah negeri gerombolan pengacau. Kisah bahwa mereka suka menculik orang yang berlalu lalang di wilayah itu tidak benar. Tetapi mereka mengajak orang-orang untuk bermukim, berhubung negeri Asmarantaka baru berdiri. Sedangkan kabar bahwa penduduk Asmarantaka suka membegal juga tidak benar. Penduduk Asmarantaka mempersilahkan singgah, karena telah memasuki negerinya.

“Hmm, kalau begitu aku akan meneruskan perjalanan ke negeri Daha untuk menemui calon istriku bernama Dewi Candra Kirana,” kata Raden Inu Kertapati kepada Panji Semirang. Panji Semirang tahu bahwa di negeri Daha ada dua orang puteri, Dewi Candra Kirana dan Dewi Ajeng. Dewi Ajeng adalah putri selir raja Daha.

Kemudian Raden Inu Kertapati dan rombongannya meneruskan perjalanan ke negeri Daha. DI sepanjang perjalanan, hatinya tetap bertanya-tanya tentang diri Panji Semirang yang dianggap bersikap aneh itu. “Dia kenal betul dengan Dewi Candra Kirana. Jangan-jangan dia menaruh hati kepada kekasihku itu,” pikir Raden Inu Kertapati.

“Apalagi, dia menawarkan kepadaku memilih Dewi Candra Kirana atau Dewi Ajeng”, tambahnya. Raden Inu Kertapati merasa telah kenal dan akrab dengan Panji Semirang. Tetapi, ia lupa tempat dan waktunya.

Ketika Raden Inu Kertapati tiba di Daha, Raja Daha menyambutnya dengan sangat meriah. Istri selir bernama Dewi Liku dan putrinya bernama Dewi Ajeng ikut menyambutnya. Namun Raden Inu Kertapato heran, ia tidak melihat Dewi Candra Kirana menyambutnya. “Kanda Dewi Candra Kirana telah pergi dari Istana. Ia telah hilang ingatan,” kata Dewi Ajeng seraya menatap tajam wajah Raden Inu Kertapati. Seketika itu juga, Raden Inu Kertapati limbung dan jatuh pingsan. Negeri Daha menjadi geger. Atas desakan kekuatan sihir Dewi Liku, Raja Daha memutuskan bahwa Raden Inu Kertapati dinikahkan dengan Dewi Ajeng.

Raja Daha memerintahkan seluruh punggawa untuk mengadakan persiapan pesta pernikahan Raden Inu Kertapati dengan Dewi Ajeng. Gapura dihias seindah mungkin. Panggung kesenian dibangun. Sepanjang jalan dan bangunan Istana dihias beraneka macam bunga-bungaan. Berbagai jenis makanan dan minuman disediakan. Melihat persiapan yang meriah itu, Dewi Ajeng tampak gembira sekali. Dambaan menjadi seorang istri pangeran yang tampan akan terkabul. Tetapi apa yang terjadi?

“Kebakaran, kebakaran!” teriak orang-orang yang sedang mempersiapkan pesta itu. Api menyala berkobar-kobar menghanguskan seluruh persiapan pernikahan. Di tengah-tengah api yang menyala-nyala itu, rombongan Raden Inu Kertapati bergerak meninggalkan istana. Ditengah perjalanan, Raden Inu Kertapati pun sadar. “Oh, dinda Candra Kirana,” tiba-tiba ia ingat wajah kekasihnya. Teringat pula wajah Panji Semirang. Bentuk badannya dan gerak-gerik kedua orang itu sama. Meskipun busana yang dikenakan berbeda tetapi wajah mereka sama.

“Kita cari Panji Semirang sampat bertemu!” kata Raden Inu Kertapati kepada rombongannya. Mereka segera bergerak menuju Asmarantaka. Ternyata Panji Semirang telah meninggalkan negeri itu. Raden Inu Kertapati memerintahkan seluruh anggota rombongannya menyebar ke segala penjuru. Hasilnya sama saja. Tak seorang pun berhasil menemukan jejak Panji Semirang.

Semangat mencari Panji Semirang tak pernah padam. Akhirnya mereka sampai ke negeri Gagelang. Raja negeri Gagelang mempunyai hubungan keluarga dengan Raja Kuripan. Kedatangan Raden Inu Kertapati disambutnya dengan hangat. “Sebenarnya rakyat negeri Gagelang ini sedang resah. Mereka diganggu oleh para pengacau yang dipimpin Lasan dan Pundak Setegal,” ungkap Raja Gagelang. Raden Inu Kertapati dan para abdinya bersedia membantu memberantas para pengacau. Mereka bekerja sama dengan para abdi kerajaan Gagelang.

Pada suatu malam, Raden Inu Kertapati dan para abdinya menghadang dan mengepung gerombolan pengacau yang dipimpin Lasan dan Pundak Setegal. “Menyerahlah, kalian sudah terkepung!” seru Raden Inu Kertapati. Tetapi gerombolan pengacau itu tidak mengindahkan seruannya. Mereka bahkan berteriak, “Serbu!” Terjadilah pertempuran sengit. Korban berjatuhan. Prajurit Raden Inu Kertapati berhasil mendesak gerombolan pengacau itu. Hanya tinggal Lasan dan Punda Setegal yang masih mengamuk berhadapan dengan Raden Inu Kertapati. Namun tidak lama kemudian, kedua pemimpin pengacau itu jatuh tersungkur.


Rakyat kerajaan Gagelang bersorak gembira mendengar musnahnya gerombolan pengacau itu. Raja Gagelang mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam. Pada malam ketujuh, raja memanggil seorang ahli pantun bernama Jaka Asmara. Ia membawakan kisah “Cinta Yang Penuh Derita”. Raden Inu Kertapati mendengar kisah itu dan langsung teringat kisah kekasihnya. Iapun ingin tahu, siapa Jaka Asmara sebenarnya. Setelah ia menyelidiki dengan saksama, ternyata Jaka Asmara adalah Dewi Candra Kirana yang juga telah menyamar sebagai Panji Semirang. Mereka saling melepas rindu dan menceritakan apa yang telah dialami. Akhirnya mereka kembali ke Kuripan dan menjadi suami istri yang berbahagia.

Moral : Kisah Panji Semirang mengungkapkan bahwa untuk menuju kebahagiaan kadang diperlukan pengorbanan. Namun bila kita tabah dan bersabar pasti segala rintangan dapat diatasi. Sumber : Cerita Asli Indonesia Elexmedia

Ular Dandaung

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



Ular Dandaung

Di kisahkan pada dahulu kala ada sebuah kerajaan besar dan termasyhur di wilayah Kalimantan Selatan. Letak kerajaan tersebut diapit dua buah gunung dan dialiri sebuah sungai besar. Tanahnya sangat subur dan rakyatnya hidup makmur. Hasil kekayaan alamnya melimpah ruah. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raya yang adil dan bijaksana. Beliau mempunyai permaisuri dan tujuh putri yang cantik. Kekayaan alam yang dimiliki bukan untuk kepentingan keluarga Raja, melainkan untuk kesejahteraan rakyat. Rakyat mengolah lahan pertanian sesuai dengan hak yang mereka miliki. Tidak pernah terjadi sengketa antar penduduk. Mereka hidup rukun dan damai.

"Ada burung raksasa!", teriak penduduk negeri yang melihat burung raksasa itu. Mereka tidak tahu darimana asalnya burung raksasa yang tiba-tiba datang mengamuk itu. Burung raksasa itu sangat menakutkan, paruhnya besar dan tajam mengkilat. Sekali mematuk manusia langsung menemui ajal. Cakarnya dapat langsung mencengkram puluhan orang dan dibuat tak berdaya. Kepak sayapnya membuat hampir seluruh wilayah negeri menjadi gelap gulita. Seluruh rakyat negeri itu menjadi panik dan kalang kabut.

"Kita harus melawan burung raksasa itu?" kata Mahapatih kepada Sri Baginda Raja. Sri Baginda Raja segera mengirim ribuan prajurit pilihan untuk menghancurkan burung raksasa itu. Bermacam senjata diarahkan ke tubuh burung raksasa itu, namun sia-sia. Bahkan burung raksasa itu semakin membabi buta, mengamuk bagai banteng terluka. Tak seorang prajuritpun selamat, demikian penduduk negeri. Sawah dan ladang menjadi porak poranda. Keadaan negeri yang rukun dan damai itu, bagaikan kalah perang.

Melihat kerajaan yang sudah hancur luluh lantak dan tak ada lagi rumah, sawah, maupun harta benda yang tersisa, semuanya itu membuat rakyat menjadi semakin tersiksa. Maka dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, prajurit dan rakyat yang sempat melarikan diri bahu membahu menyusun kekuatan dan mengumpulkan senjata apa saja untuk melawan burung raksasa yang jahat itu. Berkat kekompakan dan kerjasama antara prajurit dan rakyat yang mati-matian melawan burung raksasa, akhirnya burung raksasa kelelahan dan menghentikan serangannya. Rakyat bersyukur kepada Tuhan untuk sementara terhindar dari serangan burung raksasa.


Beberapa hari kemudian, mereka dikejutkan oleh kedatangan seekor ular raksasa. Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidah berbisa dihadapan keluarga Raja yang sangat ketakutan. "Jangan takut Baginda, hamba tidak akan membunuh Baginda dan keluarga, asalkan Baginda sudi mengabulkan permohonan hamba," kata ular itu sambil mendesis. Mendengar ucapan ular raksasa yang memberi tanda tidak akan membahayakan keluarganya, Sri Baginda memberanikan diri berkata pada ular raksasa. "Siapakah engkau ? Dan apa keinginanmu ?," tanya Baginda Raja.

"Nama hamba Ular Dandaung," jawab ular raksasa dengan penuh hormat. "Hamba ingin memperistri salah seorang putri Baginda," lanjutnya. Tentu saja keluarga Raja terperanjat. Bahkan putri sulung dan kelima adiknya menjerit ketakutan sambil merangkul ibundanya. Namun, Sri Baginda tenang dan berusaha menguasai keadaan agar jangan sampai suasana menjadi kacau. Sri Baginda berpikir sejenak sambil mengatur nafas. Beliau ingin mencari jalan keluar yang terbaik, sebab bila beliau salah langkah, pasti jiwa mereka terancam. "Aku tidak menolak, tetapi juga tidak menerima permintaanmu," kata Sri Baginda setengah kebingungan. "Aku harus bertanya kepada putri-putriku," tambahnya. Mendengar jawaban Sri Baginda itu, mata Ular Dandaung bersinar-sinar seperti mengharapkan kepastian dari salah seorang putri Raja.

Namun putri-putri Raja dari yang sulung sampai putri keenam tidak mau menerima pinangan Ular Dandaung. "Aku tidak mau kawin dengan ular yang menjijikkan !,". "Cih !. Lebih baik aku mati, daripada kawin dengannya", begitulah kata-kata yang keluar dari putri-putri Baginda Raja. Akhirnya,"Aku bersedia menjadi istrinya," jawab Putri Bungsu sambil bersimpuh di depan ayahandanya. Akhirnya, Putri Bungsu dan Ular Dandaung diumumkan sebagai suami istri yang sah. Tentu saja banyak ejekan maupun cemooh dari keenam kakaknya, namun ia jawab dengan senyuman manis.

Pada suatu malam, Putri Bungsu tiba-tiba terbangun dan terkejut melihat yang berada di
sampingnya bukan Ular Dandaung, melainkan seorang pemuda tampan dan gagah perkasa berbusana Raja. "Jangan terkejut, aku suamimu. Kau telah menolongku bebas dari kutukan," kata Ular Dandaung meyakinkan. Setelah Putri Bungsu tenang, Ular Dandaung kemudian bercerita bahwa ia dikutuk karena kesalahannya. Ia akan terbebas dari kutukan apabila dapat memperistri seorang putri raja, dan ia berhasil. Melihat kejadian itu, keenam kakak Putri Bungsu menyesal. Namun nasi telah menjadi bubur.

Ular Dandaung ternyata seorang yang sakti mandraguna. Melihat kerajaan mertuanya porak poranda ia langsung turun tangan. Ia segera mencari tempat Burung Raksasa. Terjadilah pertempuran hebat. Ular Dandaung mengerahkan segala kesaktiannya dan akhirnya berhasil membinasakan burung raksasa. Sejak saat itu, desa tersebut menjadi aman dan tenteram kembali.

Moral : Setiap kejadian buruk yang menimpa pasti akan ada hikmahnya. Kerelaan dan keikhlasan serta tujuan mulia Putri Bungsu menerima Ular Dandaung menjadi suaminya menjadikan sesuatu menjadi baik kembali. Jadi, apa yang tampak buruk pada lahirnya belum tentu buruk pada isinya. Sumber : Cerita Asli Indonesia Elexmedia

Calon Arang

Posted by CendekiaCenter on , under | komentar (0)



Calon Arang

Pada suatu masa di Kerajaan Daha yang dipimpin oleh raja Erlangga, hidup seorang janda yang sangat bengis. Ia bernama Calon Arang. Ia tinggal di desa Girah. Calon Arang adalah seorang penganut sebuah aliran hitam, yakni kepercayaan sesat yang selalu mengumbar kejahatan memakai ilmu gaib. Ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Manggali. Karena puterinya telah cukup dewasa dan Calon Arang tidak ingin Ratna Manggali tidak mendapatkan jodoh, maka ia memaksa beberapa pemuda yang tampan dan kaya untuk menjadi menantunya. Karena sifatnya yang bengis, Calon Arang tidak disukai oleh penduduk Girah. Tak seorang pemuda pun yang mau memperistri Ratna Manggali. Hal ini membuat marah Calon Arang. Ia berniat membuat resah warga desa Girah.

“Kerahkan anak buahmu! Cari seorang anak gadis hari ini juga! Sebelum matahari tenggelam anak gadis itu harus dibawa ke candi Durga!“ perintah Calon Arang kepada Krakah, seorang anak buahnya. Krakah segera mengerahkan cantrik-cantrik Calon Arang untuk mencari seorang anak gadis. Suatu perkerjaan yang tidak terlalu sulit bagi para cantrik Calon Arang.


Sebelum matahari terbit, anak gadis yang malang itu sudah berada di Candi Durga. Ia meronta-ronta ketakutan. “Lepaskan aku! Lepaskan aku!“ teriaknya. Lama kelamaan anak gadis itu pun lelah dan jatuh pingsan. Ia kemudian di baringkan di altar persembahan. Tepat tengah malam yang gelap gulita, Calon Arang mengorbankan anak gadis itu untuk dipersembahkan kepada Betari Durga, dewi angkara murka.

Kutukan Calon Arang menjadi kenyataan. “Banjir! Banjir!“ teriak penduduk Girah yang diterjang aliran sungai Brantas. Siapapun yang terkena percikan air sungai Brantas pasti akan menderita sakit dan menemui ajalnya. “He, he... siapa yang berani melawan Calon Arang ? Calon Arang tak terkalahkan!” demikian Calon Arang menantang dengan sombongnya. Akibat ulah Calon Arang itu, rakyat semakin menderita. Korban semakin banyak. Pagi sakit, sore meninggal. Tidak ada obat yang dapat menanggulangi wabah penyakit aneh itu..

“Apa yang menyebabkan rakyatku di desa Girah mengalami wabah dan bencana ?” Tanya Prabu Erlangga kepada Paman Patih. Setelah mendengar laporan Paman Patih tentang ulah Calon Arang, Prabu Erlangga marah besar. Genderang perang pun segera ditabuh. Maha Patih kerajaan Daha segera menghimpun prajurit pilihan. Mereka segera berangkat ke desa Girah untuk menangkap Calon Arang. Rakyat sangat gembira mendengar bahwa Calon Arang akan ditangkap. Para prajurit menjadi bangga dan merasa tugas suci itu akan berhasil berkat doa restu seluruh rakyat.

Prajurit kerajaan Daha sampai di desa kediaman Calon Arang. Belum sempat melepaskan lelah dari perjalanan jauh, para prajurit dikejutkan oleh ledakan-ledakan menggelegas di antara mereka. Tidak sedikit prajurit Daha yang tiba-tiba menggelepar di tanah, tanpa sebab yang pasti.

Korban dari prajurit Daha terus berjatuhan. Musuh mereka mampu merobohkan lawannya dari jarak jauh, walaupun tanpa senjata. Kekalahan prajurit Daha membuat para cantrik, murid Calon Arang bertambah ganas. “Serang! Serang terus!” seru para cantrik. Pasukan Daha porak poranda dan lari pontang-panting menyelamatkan diri. Prabu Erlangga terus mencari cara untuk mengalahkan Calon Arang. Untuk mengalahkan Calon Arang, kita harus menggunakan kasih saying”, kata Empu Barada dalam musyawarah kerajaan. “Kekesalan Calon Arang disebabkan belum ada seorang pun yang bersedia menikahi puteri tunggalnya.“

Empu Barada meminta Empu Bahula agar dapat membantu dengan tulus untuk mengalahkan Calon Arang. Empu Bahula yang masih lajang diminta bersedia memperistri Ratna Manggali. Dijelaskan, bahwa dengan memperistri Ratna Manggali, Empu Bahula dapat sekaligus memperdalam dan menyempurnakan ilmunya.

Akhirnya rombongan Empu Bahula berangkat ke desa Girah untuk meminang Ratna Manggali. “He he … aku sangat senang mempunyai menantu seorang Empu yang rupawan.” Calon Arang terkekeh gembira. Maka, diadakanlah pesta pernikahan besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam. Pesta pora yang berlangsung itu sangat menyenangkan hati Calon Arang. Ratna Manggali dan Empu Bahula juga sangat bahagia. Mereka saling mencintai dan mengasihi. Pesta pernikahan telah berlalu, tetapi suasana gembira masih meliputi desa Girah. Empu Bahula memanfaatkan saat tersebut untuk melaksanakan tugasnya.


Di suatu hari, Empu Bahula bertanya kepada istrinya, “Dinda Manggali, apa yang menyebabkan Nyai Calon Arang begitu sakti?“ Ratna Manggali menjelaskan bahwa kesaktian Nyai Calon Arang terletak pada Kitab Sihir. Melalui buku itu, ia dapat memanggil Betari Durga. Kitab sihir itu tidak bisa lepas dari tangan Calon Arang, bahkan saat tidur, Kitab sihir itu digunakan sebagai alas kepalanya.

Empu Bahula segera mengatur siasat untuk mencuri Kitab Sihir. Tepat tengah malam, Empu Bahula menyelinap memasuki tempat peraduan Calon Arang. Rupanya Calon Arang tidur terlalu lelap, karena kelelahan setelah selama tujuh hari tujuh malam mengumbar kegembiraannya. Empu Bahul berhasil mencuri Kitab sihir Calon Arang dan langsung diserahkan ke Empu Baradah. Setelah itu, Empu Bahula dan istrinya segera mengungsi.

Calon Arang sangat marah ketika mengetahui Kitab sihirnya sudah tidak ada lagi, ia bagaikan seekor badak yang membabi buta. Sementara itu, Empu Baradah mempelajari Kitab sihir dengan tekun. Setelah siap, Empu Baradah menantang Calon Arang. Sewaktu menghadapi Empu Baradah, kedua belah telapak tangan Calon Arang menyemburkan jilatan api, begitu juga kedua matanya. Empu Baradah menghadapinya dengan tenang. Ia segera membaca sebuah mantera untuk mengembalikan jilatan dan semburan api ke tubuh Calon Arang. Karena Kitab sihir sudah tidak ada padanya, tubuh Calon Arang pun hancur menjadi abu dan tertiup kencang menuju ke Laut Selatan. Sejak itu, desa Girah menjadi aman tenteram seperti sediakala.

Moral : Calon Arang merupakan contoh seorang yang memiliki sifat pemarah dan tidak dapat menguasai nafsunya. Hendaknya seseorang tidak memaksakan kehendaknya pada orang lain dan tidak melakukan sesuatu hal yang dibenci orang lain. Karena pemaksaan kehendak akan berakibat buruk bagi diri sendiri.
Sumber : Elexmedia