.
Latest News

Ular Hitam Bukit Kangin

Saturday , Posted by CendekiaCentre at 4:37 PM

Ular Hitam Bukit Kangin

Di daerah pedalaman pulau Bali terdapat sebuah desa yang subur, makmur, aman dan damai bernama desa Tenganan. Namun, pada suatu hari penduduk desa dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki yang berpakaian compang-camping seperti layaknya pengembara yang kehabisan bekal. "Siapakah namamu? Darimana asalmu?" tanya seorang pemuka mayarakat bernama Jero Pasek Tenganan. "Nama saya I Tundung. Saya orang miskin, tidak punya tempat tinggal tetap," jawab lelaki itu.


Jero Pasek Tenganan merasa iba melihat keadaan I Tundung. Lantas ia memberikan makanan dan minum secukupnya. Ucapan terima kasih tak henti-hentinya disampaikan I Tundung kepada Jero Pasek Tenganan. "Maaf, tuan. Kalau tuan berkenan, saya ingin mengabdikan diri kepada tuan," pinta I Tundung. "Pekerjaan apapun yang tuan berikan, akan saya kerjakan dengan senang hati," tambah I Tundung. Karena kasihan Jero Pasek menerima permintaan I Tundung. Maka, mulai saat itu I Tundung tinggal di rumah Jero Pasek.

I Tundung sangat rajin bekerja. Selain bercocok tanam di sawah dan di ladang, ia pun memelihara ternak. Hasil taninya sangat memuaskan. "Hem, dia mempunyai tangan dingin. Sehingga tanaman apa pun yang ia tanam tumbuh subur dan hasilnya melimpah," kata seorang petani kepada temannya. "Dan ia mempunyai bakat beternak. Sehingga ternak jenis apa pun cepat menjadi gemuk dan beranak pinak," ucap teman petani itu.

Melihat hasil kerja yang berlimpah itu, I Tundung tidak sombong. Ia bahkan menularkan ilmu taninya kepada petani lain. Namun, kunci keberhasilannya adalah harus tekun dan rajin bekerja. Pada suatu hari, Jero Pasek memanggil I Tundung. "Melihat hasil pekerjaanmu, aku akan menyerahkan sebidang tanah di Bukit Kangin. Tanah itu tandus dan gersang, sehingga tidak ada orang yang mau mengolahnya," kata Jero Pasek kepada I Tundung. "Aku yakin, kau mampu menggarapnya dan hasilnya pun akan melimpah," tambah Jero Pasek.

Sejak saat itu, I Tundung pindah tempat tinggalnya ke Bukit Kangin. Ia menggarap lahan yang tandus dan gersang itu bukan hanya dengan tenaga yang digunakan, tetapi akal. I Tundung melihat ada sebuah mata air di lereng gunung. "Hem, mata air itu akan kualirkan kemari. Dengan begitu, aku akan lebih mudah menggarap lahan ini," gumam I Tundung penuh keyakinan. Dengan segala daya upaya yang tiada henti, akhirnya air dari mata air di lereng gunung itu berhasil dialirkan ke Bukit Kangin. Ia mulai bercocok tanam padi, jagung dan sayur mayur.


Tibalah saat panen. Hasilnya melimpah ruah. Jero Pasek memuji keberhasilan I Tundung. "Aku sangat bangga dengan usahamu yang tak kenal lelah. Kau bisa membuktikan kecakapanmu bertani. Maka mulai saat ini, kau kuberi tugas untuk menggarap lahan di seluruh bukit," kata Jero Pasek kepada I Tundung. Ternyata I Tundung bisa mengolah lahan di Bukit Kangin menjadi tanah pertanian dan peternakan yang maju.

Setelah Jero Pasek dan I Tundung menikmati hasil dari lahan di Bukit Kangin, terjadilah musibah. Hampir setiap malam hasil lahan pertaniannya banyak yang hilang. Bukan hanya itu. Ternak yang dipelihara di lahan itu pun satu demi satu hilang dari kandangnya. Betapapun I Tundung sudah menjaga sekuat tenaga, namun tetap saja terjadi pencurian.

"Aku sangat kecewa dengan kejadian yang sangat merugikan itu. Mungkin, kau sudah bosan merawat atau menjaga lahan pertanian dan ternak, sehingga sering terjadi pencurian itu," kata Jero Pasek kepada I Tundung. Tentu saja, perasaan hati I Tundung bagaikan tertusuk pisau mendengar ucapan Jero Pasek itu.

I Tundung sangat malu dengan Jero Pasek, karena tidak bisa mengatasi pencurian yang berada di lahan garapannya. Setiap malam ia merenung sambil memutar otak bagaimana cara mengatasi pencuri yang lihat itu. Di tengah malam yang hening, I Tundung masuk ke sebuah pura di lahan garapannya. Pura itu bernama Pura Naga Sundung. Ia berdoa sangat khusuk mohon agar dapat mengatasi pencurian yang sangat merugikan itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara gaib yang terngiang-ngiang ditelinganya.

"Permohonanmu dikabulkan, asalkan kau mau mengikuti perintahku," bunyi suara gaib. Kau harus rela berubah menjadi ular hitam, tambah suara gaib itu. Jadikanlah diri hamba apa saja, asalkan hamba dapat menghapus rasa malu dan dapat mengabdi pada tuan Jero Pasek," ucap I Tundung. Setelah mengucapkan kata-kata itu. I tundung merasakan kaki dan lehernya bertambah panjang dan berubah menjadi seekor ular hitam yang besar.

Pada suatu hari, Jero Pasek ingin menemui I Tundung di lahan Bukit Kangin. Namun, setelah ia menyusuri seluruh bukit, ternyata ia tidak menemukan I Tundung. Jero Pasek tak putus asa mencari I Tundung. Tibalah ia di Pura Sundung. Betapa terkejutnya ia melihat ada seekor ular hitam legam yang sangat besar. "Jangan takut, tuan Jero Pasek. Hamba adalah I Tundung yang telah menjelma menjadi ular hitam. Hamba berjanji tetap mengabi pada tuan dan bersedia menjaga lahan Bukit Kangin ini. Bila ada yang berani mencuri hasil lahan dan ternak, mereka akan ku usir," ucap I Tundung.

"Maafkan aku, I Tundung. Bukannya aku tidak mempercayaimu. Melainkan aku ingin memberi kepercayaan sepenuhnya kepadamu untuk mengolah, merawat dan menjada hasil lahan di Bukit ini," kata Jero Pasek mantap. "Nah, mulai sekarang kau kuberi tugas untuk menjaga lahan ini sampai anak keturunanmu," lanjut Jero Pasek. Mendengar tugas itu, ular hitam legam yang dinamai Lelipi Selem Bukit itu perlahan-lahan masuk ke semak-semak. Sejak itu, di Bukit Kangin tidak ada lagi pencurian.

Moral : Sebuah kesetiaan yang tulus, diperlukan pengorbanan apa pun bentuknya. Hal ini telah dibuktikan oleh I Tundung yang mengabdi kepada Jero Pasek Tenganan. Sumber : Cerita Asli Indonesia - Elexmedia

Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Post a Comment

CENDEKIA